Mahasiswa STIM Sukma Medan Dalami Praktik Bisnis Nyata Lewat Fieldtrip Inovatif ke Kebun Teh Bahbutong PTPN IV Nusantara, Sidamanik

Sixson Roberto Simangunsong, M.Pd.
Arnita Turnip, MBA.

Siantar, Sumatera Utara, Upaya menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman terus dilakukan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Sukma Medan, Pembelajaran ini disebut dalam profil lulusan sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Sukma Medan. Salah satu bentuk inovasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan fieldtrip mahasiswa ke kawasan industri dan wisata edukatif di Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Kegiatan ini tidak sekadar kunjungan biasa, namun menjadi penerapan dari Kurikulum Outcome Base education, dirancang sebagai laboratorium lapangan untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap praktik bisnis riil. Dengan rute perjalanan menuju Siantar hingga Kebun Teh Bahbutong yang berada di wilayah kerja PTPN IV Nusantara, mahasiswa diajak menyelami proses produksi, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan dalam industri perkebunan. Fieldtrip ini dipandu langsung oleh dua dosen berpengalaman di bidang perilaku konsumen (Customer Behavior), yakni Sixson Roberto Simangunsong, S.Pd., M.Pd. dan Arnita Turnip, MBA. Keduanya adalah Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Sukma Medan.

Belajar Harga Pokok Produksi dari Sumbernya

Setibanya di Kebun Teh Bahbutong, mahasiswa langsung diperkenalkan pada proses produksi teh yang dimulai dari pemetikan daun hingga tahap pengolahan. Dalam sesi ini, mahasiswa tidak hanya mengamati, tetapi juga diajak melakukan analisis sederhana terhadap struktur biaya produksi. Konsep harga pokok produksi (HPP) yang sebelumnya dipelajari di ruang kelas kini terlihat nyata. Mahasiswa dapat mengidentifikasi secara langsung komponen biaya seperti tenaga kerja, bahan baku, hingga biaya operasional pabrik. “Pembelajaran seperti ini memberikan pengalaman yang tidak tergantikan. Mahasiswa dapat memahami bagaimana setiap keputusan produksi berdampak pada biaya dan harga jual,” ujar salah satu dosen pendamping dalam sesi diskusi lapangan. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan literasi finansial mahasiswa, khususnya dalam memahami efisiensi produksi dan strategi penentuan harga.

Mengasah Kreativitas dalam Desain Merek dan Pemasaran

Selain aspek produksi, mahasiswa juga diberikan tantangan untuk menganalisis dan merancang strategi branding produk teh. Dalam kegiatan ini, mereka mengamati bagaimana produk perkebunan dikemas dan dipasarkan kepada konsumen. Mahasiswa kemudian diminta untuk mengembangkan ide desain merek yang lebih kompetitif, mulai dari visual kemasan hingga positioning produk di pasar. Aktivitas ini menjadi sarana untuk mengintegrasikan teori pemasaran dengan realitas pasar yang sesungguhnya. Menurut Arnita Turnip, MBA, pemahaman terhadap perilaku konsumen tidak dapat dilepaskan dari bagaimana sebuah produk dipresentasikan. “Brand bukan hanya soal logo, tetapi bagaimana membangun persepsi dan pengalaman konsumen,” jelasnya.

Simulasi Tata Kelola Keuangan dan Analisis Profit

Dalam sesi berikutnya, mahasiswa diajak memahami tata kelola keuangan perusahaan perkebunan. Mereka mempelajari bagaimana perusahaan mengatur arus kas, mengendalikan biaya, serta merencanakan investasi. Kegiatan ini dilengkapi dengan simulasi sederhana terkait perhitungan profit produksi. Mahasiswa menganalisis hubungan antara biaya produksi, harga jual, dan volume produksi untuk menentukan tingkat keuntungan. Hasilnya, mahasiswa mampu melihat secara langsung bahwa profit tidak hanya bergantung pada penjualan, tetapi juga pada efisiensi operasional dan strategi manajerial yang tepat.

Integrasi Mata Kuliah Customer Behavior di Lapangan

Sebagai bagian dari mata kuliah Customer Behavior, fieldtrip ini menjadi sarana untuk mengamati perilaku konsumen secara langsung. Mahasiswa diajak memahami bagaimana kualitas produk, citra merek, serta pengalaman konsumen mempengaruhi keputusan pembelian. Sixson Roberto Simangunsong, S.Pd., M.Pd. menekankan bahwa pembelajaran berbasis lapangan mampu membangun sensitivitas mahasiswa terhadap dinamika pasar. “Mahasiswa tidak hanya belajar konsep, tetapi juga memahami realitas perilaku konsumen di lapangan,” ujarnya.

Wisata Edukatif: Pemandian Bahdamanik sebagai Potensi Ekonomi Lokal

Setelah rangkaian kegiatan akademik, mahasiswa melanjutkan perjalanan ke Pemandian Bahdamanik yang berada tidak jauh dari lokasi kebun teh. Destinasi ini dikenal dengan airnya yang jernih dan alami serta menjadi salah satu tujuan wisata favorit di kawasan Sidamanik. Kunjungan ini tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga edukatif. Mahasiswa diajak mengamati potensi ekonomi sektor pariwisata, termasuk perilaku pengunjung, pola konsumsi, serta peluang pengembangan usaha berbasis wisata. Keramaian pengunjung di lokasi tersebut menjadi bukti bahwa sektor pariwisata memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal. Hal ini membuka wawasan mahasiswa mengenai peluang bisnis di luar sektor industri utama.

Mendorong Pembelajaran Inovatif Berbasis Pengalaman

Kegiatan fieldtrip ini menjadi refleksi dari transformasi metode pembelajaran di perguruan tinggi. STIM Sukma Medan menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Melalui pendekatan experiential learning, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga keterampilan analitis dan problem solving yang dibutuhkan dalam dunia bisnis. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat hubungan antara institusi pendidikan dan sektor industri, sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan literasi bisnis di masyarakat.

Dampak Positif bagi Mahasiswa dan Masyarakat

Fieldtrip ini memberikan berbagai dampak positif, di antaranya:

  • Meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap praktik bisnis nyata
  • Mengembangkan kemampuan analisis dan kreativitas
  • Meningkatkan kesadaran terhadap potensi ekonomi lokal
  • Memperkuat hubungan antara kampus dan dunia industri

Mahasiswa mengaku mendapatkan pengalaman baru yang memperkaya wawasan mereka. Pembelajaran yang sebelumnya bersifat teoritis kini menjadi lebih konkret dan mudah dipahami.

Penutup

Melalui kegiatan ini, STIM Sukma Medan berhasil menghadirkan model pembelajaran yang tidak hanya inovatif tetapi juga berdampak nyata. Integrasi antara pendidikan, industri, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan lulusan yang kompeten dan adaptif terhadap perubahan zaman. Fieldtrip ke Sidamanik bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan sebuah langkah strategis dalam membentuk generasi muda yang siap menghadapi tantangan dunia bisnis dengan pemahaman yang holistik dan berbasis pengalaman nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *